Langsung ke konten utama

Terlekang

Ada satu waktu dimana kita saling sapa
Namun berubah seiring waktu tak sedia kala
Merambah amarah yang terus tersulut
Hingga kau percikan kekesalan untuk berkian kalinya

Hanya saja aku ini manusia
Yang lekang dari rasa sempurna
Hanya ada rindu yang terus ku miliki
Namun genggaman rindumu terlepas dari hatimu
Memadukan kesedihan itu sifatmu, mungkin
Namun aku sepertinya sudah lekang dalam rindumu
Melangkah jauh bahkan lenyap dipandanganmu

Saat ini ada kekecewaan dihati ini
Ada sebab dalam alasan
Namun ku belum mampu artikan semua ini
Mungkin, aku yang sudah seharusnya kau lekangkan
Hingga pada ahirnya aku duduk disudut malam melihat tarian hujan
Dan ku tertidur hingga ku mampu lekangkan kamu dalam hari ku...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ingatlah

Terkadang kita lupa dengan apa itu setelah kehidupan. Tidak ada lagi harta yang dapat dikumpulkan, tidak ada lagi rasa senyum, hanya penyesalan yang membuat kita terdiam dan bahkan menjadikan diri sendiri sebagai sesuatu yang hina. Kematian. Benar, kematian. Tidak ada yang mampu mengelak dari sebuah kematian. Dimana rangkaian kehidupan akan berahir disini dan semua kembali kepada sang pencipta. Tidak ada alsan logis kemana kita dalam kematian. Hanya saja, tanah akan menjadi tempat kita. Ya, satu lubang tanah yang menjadikan kita terdiam, kaku, bahkan tak mampu berbuat baanyak. Sodara, cobalah renungkan bagaimana hidup kita ini. Jika memang segala perintah-Nya kita jalani, niscaya akan tenang jalan hidupnya. Ia hanya akan menunggu saat-saat indah kematian, walaupun tidak ada yang mau meninggalkan dunia ini dengan cepat. Kita sebagai manusia sadar, bahwa banyak dan akan menciptakan dosa. Namun kita memiliki hati, yang mana butuh keimanan yang kuat agar kita mengenal siapa Tuhan kit...

Kasihmu Tak Mampu Terbalaskan

Kasihmu adalah kasih suci Selalu menghiasi hati Dan selalu menjawab keraguan hati Kau pelita dalam hidup ini Tulus cintamu begitu besar Dan tak mampu ku balaskan Engkau malaikat, mungkin lebih dari itu Kau tiupkan angin cintamu di pagi hari Tak ada yang mampu merasakannya Hanya kau dan aku Kau hiasi hati ini dengan doa Dan ku tenang dalam menjalaninya Kau memang terbaik yang kumilikki Tak ada yang lain Sungguh tak ada Kau tahu, aku memang belum mampu Belum mampu mendekap ragamu Jiwa ini membutuhkanmu Dukunganmu selalu ku nantikan Aku lah,.. Akulah anakmu ibu.. Aku merindukan engkau Lentera cinta yang tak pernah padam Ada dalam kasihmu, dan tersimpan di hatiku Aku kini belum mampu membalasnya Cinta mu dalam iringan kasihmu tak mampu terbalaskan

Lantas Kemana Dia Pergi? (Bag 1)

Lelah bercampur keringat itu bagi seorang atlet mungkin keren, tapi tidak bagi kami, para pelajar kelas 2 SMA ini. Bercampur aroma aura badan serta asamnya keringat teman membuat pelajaran olahraga di jam matahari mulai meninggi memang tidak bisa dibilang keren. Huft.... Baik, perkenalkan nama aku Kean. Terdengar asing? Ya namanya juga bukan artis muehehe. Saat ini aku duduk di bangku kelas 2 SMA swasta di kota kecil. Pagi sekitar jam 6.30 mulai berangkat dari rumah. Sudah biasa sih, tapi tetap saja letih. Rumah ke sekolah jalan kaki, jarak 2km-an sih, ga jauh lah. Aku pelajar yang terbilang kepagian. Tidak pernah ada kata kesiangan. Ya begitulah orang-orang memanggilku.   Oke ini cerita Aku, bukan dia, mereka atau pun power ranger, ini hanya cerita aku, Kean si penjagal cinta. Aneh Awal perkenalan saat itu sebagai hal yang wajar. Maklum lah siswa pindahan. Saat itu tidak ada yang ku kenal. Lagi-lagi asing bagi ku karena baru kali ini menginjak kota yang asing...