Langsung ke konten utama

Postingan

“Biarkan Aku Melakukannya, Bunda”

Hari ini mungkin menjadi hari terindah dalam hidupku. Tidak peduli akan masa lalu, dan kini akan ku sambut masa depan bersamanya, kekasih yang InsyaAllah menjadi pelabuhan terahir cinta ini. Hari ini sangat aku tunggu juga dia, yang telah 5 tahun menjalin kasih sayang untuk merajut dan membuka lembaran baru, menikah bersamanya. Tedy, itulah nama yang hari ini akan mengucapkan janji denganku untuk membina rumah tangga bersamaku. Jam telah menunjukan pukul 08.00. Jantung ini benar-benar berdegup kencang, tidak biasanya bahkan lebih kencang dibanding Interview melamar pekerjaan. Tubuh ini pun dibalut dengan pakaian adat Sunda yang begitu khas. Warna putih aku pilih untuk menghadapi akad nikah hari ini. “Rini, kamu sangat terlihat cantik sekali”, puji ibunda tercintaku yang sedari tadi ikut meriasi aku. “Ah bunda, setiap hari juga aku kan cantik bun..”, ucapku dengan senyuman. “ya sudah ayo cepat, sebentar lagi rombongan keluarga Tedy datang”, sambil merapikan kerudungku yang membalu...

Wanita

Hanya sedikit laki-laki yang dapat memahami siapa itu wanita. Mereka masih banyak beranggapan wanita itu mahluk yang lemah, hanya pemuas nafsu belaka dan masih banyak lagi alasan tentang itu. Namun disisi lain wanita adalah mahluk yang tangguh. Mereka memang mudah menangis, namun mereka pula mudah bangkit melawan keterpurukan. Adakalanya wanita ingin ada seseorang yang memahaminya. Namun siapa sangka hanya segelintir laki-laki saja yang mamu membaca hatinya. Tatkala wanita menangis, sebenarnya wanita membutuhkan tangan seorang laki-laki untuk membasuh air mata sucinya itu. Maka beruntunglah wanita yang memiliki kekasih setia dimana mampu mengerti dan memahami akan keadaan hati seorang wanita. Dari pengalaman Penulis, saya tahu betul akan kelemahan dan kelebihan seorang wanita. Banyak yang tak mampu kita lihat dibalik keanggunan deorang wanita. Mereka memeiliki keindahan tersendiri dalam memikat hati seorang laki-laki. Memang kadang kala ada wanita yang secara diam-diam mengagu...

Itulah Kamu

Mungkin semua mengira aku masih mencintainya Tapi bagiku, itu sudah punah Sudah usang tergantikan oleh lembar baru yang jauh lebih sempurna darinya Mungkin semua akan mengira ini cepat Bagiku tidak, ini semua telah lama kunanti Aku dengannya telah lenyap dalam 100 hari Dan kini dia membawakan air dalam pengatnya siang Sehingga ku mampu bicara akan hal cinta dihati Kau kini menjadi pilihan dalam hati Bukan sebagai pelipur lara Melainkan kau sebagai cinta ketujuh akan peraduan asmaraku ini Sayang, bila ada kau ucapkan kasih sayang, bicaralah Aku ingin kau tetap menjadi milikku Entah kita akan seberapa lama Namun selama nafas masih berhembus, dan angin masih membentangkan sayap burung Aku akan tetap setia akan dirimu Bukan aku yang kau genggam pertama Namun aku harap kita akan dipisahkan oleh waktu yang terhenti Disini aku ada dan kau ada Itulah kamu yang selalu aku rindukan Meski aku harus memeluk erat bayangmu dikemudian hari Namun aku akan...

Puisi Pak Habibie

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada  pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu. Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi. Kau tahu sayang, rasanya seperti angin  yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir,  pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini. Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. mana mungki...

Tak Akan Ku kenali Dirimu

Aku terkesan padamu. Aku terkesan dengan wajah cantikmu. Aku terkesan dengan dua buah bola mata dibawah alis indahmu. Aku terkesan dengan senyum manis yang kau pancarkan. Namun aku tidak ingin berkenalan denganmu. Jika kita saling kenal dan tak akan pernah bertemu lagi, itu hanya akan menyisakan bayangan. Karena bagiku, pertemuan pertama akan menciptakan rasa penasaran, pertemuan kedua akan menciptakan rasa rindu, dan aku tak ingin merindu. Biarlah waktu yang akan mempertemukan kita kembali. Semoga kita dapat bertemu lagi. (Surat untuk seseorang yang tidak ku ketahui namanya saat di Bis kota)

Tanpa Sebuah Alasan

Jika saja pada saat itu aku tidak mencari siapa dirimu yang dekat dengan teman baik ku, mungkin aku tidak akan sampai sejauh ini mengenalmu. Jauh sebelum aku tahu kamu sampai sejauh ini, aku hanya anggap kau akan menjadi miliknya. Tapi semua itu salah. Kau sama sekali tak memiliki rasa padanya. Namun kau memiliki rasa pada yang lain, yang sebelumnya telah lama kau mampu ciptakan api cinta pada hatimu walaupun hanya kau yang ciptakan. Aku mengetahuimu dari seseorang yang ku kenal ia sangat mencintaimu. Namun kau acuhkan dia, karena kau memiliki hati yang lain. Aku paham akan hal itu. Tapi aku tak percaya, karena masih ada seseorang yang begitu setia sampai harus berpuluh tahun tetap menyukai insan dihatinya. Padahal dulu ialah dulu yang setahu aku saat itu kau masih kecil yang dianggap polos tapi kau mencintai orang yang telah bersamamu semasa kecil. Tapi nyatanya dia pergi, dan sampai sekrang aku tidak mendengar kau mencintainya lagi. Yang ku dengar kau kini menyayangi sesorang ya...

Hitamkan Saja Langit Siang Ini

Sedikit lelah yang kurasa Kala kau bisikan cinta padanya Entah ku harus bagaimana Aku tak mampu lagi bergerak Dengan dua kaki terpijak ini Aku lelah dengan hal ini Namun aku tahu ini hanyalah fatamorgana Akan ada yang kekal jauh disana Namun itu lama waktunya Hitamkan saja langit siang ini Biar semua tahu malam telah datang Hitamkan saja langit siang ini Biar mereka tahu akan gelisahku tanpamu Hitamkan saja langit siang ini Biar menyejukan hati ini yang terbakar oleh mu Hitamkan saja langit siang ini Biar mereka tak mampu melihat kau dan dia Hitamkan saja langit siang ini Biar air mata ini mengalir tanpa kau lihat Hitamkan saja langit siang ini Biar senduku terhapus dengan datangnya hujan Hitamkan saja langit siang ini Biar aku tahu mana pancaran cintaku Sedikitku mengenalimu disela waktuku rasa Namun ku tahu ini tak mampu aku rasa Biarlah dan terus biarlah agar langit tetap hitam Hitamkan saja hatimu siang ini