Langsung ke konten utama

Postingan

Hujan Malam

Langkahmu kini hanya sebuah pijakan lalu Tidak ada lagi jeritan suaramu yang dulu ingatkan ku pada waktu Seakan kau ingin hilangkanku Namun aku tak mampu walau aku yang bertindak Ini sulit ku jalani Seakan berdiri tanpa pijkan yang tepat Duri ada dipijakanku Melukai perlahan dan mulai membesar Rasanya ingin ku mengatakan bahwa aku butuh kamu Tapi bagiku sulit, karena kau tak disini mendengar jeritan hatiku Kau tahu, dirimu yang dulu menghilang tanpa alasan Meraung hanya ku yang bersuara Tanpa kau yang membalas dengan rasa kasih yang dulu kau miliki Apakah hilang rasa rindumu padaku? Apakah kau sudah tak ingin mendengar kabar ku lagi? Apakah harus ku menangis dibahagianya pasangan lain? Apkah kau sudah tak mampu menjalani jarak yang memisahkan kita? Ada kalanya kau harus pahami hal itu Bahkan ribuan rindu ku tak kau balas Entahlah mengapa kau berubah Namun, aku merasakan butuh kau saat ini Dikala hujan tak mampu mengubur sepi ku lagi...

Sepotong Malam Ramadhan Itu

(Oleh : Indri Septiana) Lantunan ayat suci yang mengalun samar Ditengah pekatnya malam Menembus keheningan Menukar kesunyian Dari kamu, Pemilik danau plupuk Yang mampu menenggelamkan siapa saja yang menatapnya Empu dari senyum yang ramah Dan membuat gila siapa saja yang mendapatkannya Ah, kau telah bangunkan aku dari tidur pulas Yang ku alami selama ini Kau telah buatku berhalusinasi Tentang sesuatu yang tak pernah ku alami Segalanya memang diluar akal sehatku Semua terjadi diluar kuasaku Maaf atas kelancangan hati ini Terimakasih karena pernah menjadi Sepotong malam Ramadhan ku.. Teruntuk Seseorang dengan Sorot mata yang meneduhkan

Tua-mu Bukan Alasan Untuk Melangkah

(Oleh : Indri Septiana) Alur wajah yang tenang… Sorot mata yang hampir meredup… Segaris senyum yang ditarik perlahan, Membuatku mengerti, betapa kerasnya hidup Tak pucat namun pasi.. Tubuhnya yang ringkih Kakinya yang telah lelah, namun ia bertahan Jangkrik yang menyelinap kedalam topi lusuhnya Keringat yang menetes, air mata yang meluruh Betapa tegarnya ia Caranya tersenyum.. Menahan segala duka.. Meniadakan semua luka.. Ah Tuhan.. sekarang aku paham Bagaimana caranya menikmati kehidupan Kau telah mengijinkanku berjumpa dengannya walau sesaat Dengan Ibu tua yang menggendong bakul kayu Demi sesuap nasi.. Beri ia umur panjang.. Tuhan.. Teruntuk Wanita Tua yang Ku jumpa..

Untukmu Aku Bersenandung

Sudah banyak syair yang ku lantunkan Bahkan ribuan kata sudah ku ucapkan Namun adakalanya masih ingin memujimu Bukan menduakan Ilahi, tetapi ada sebuah rasa berirama dengan laju Cinta hati Sulit rasanya jemari ini berhenti Untuk ungkapkan rasa dihati Sepertinya hanya kamu, jutaan kalimat cinta ku senandungkan dibawah milyaran cahaya Bintang Banyak sekali cerita lama yang tak ingin ku ulang disela waktuku bersamamu Bukan maksudku mengingat Namun tak ingin lagi jemari ini terluka Ini sebuah ungkapan untukmu Bersenandung, Bersyair dan Berirama disetiap kau terluka Memelukmu, sungguh sulit disaat ini Raga kita jauh tak temu Namun hati ini selalu bersenandung bersamamu Ini sebuah rasa, Untukmu aku bersenandung, Terimakasih, kau datang disaat ku memohon

TERIMAKASIH

Terimakasih Ibu , tanpamu aku bukanlah siapa-siapa. Kau ajarkan aku arti hidup, dank au pulalah yang mengerti aku. Kau dengan semangatmu menjadikanku seperti ini, walau balas belum menemui budi, tapi tujuan dan niat selalu ada untuk membasuh kedua kakimu. Terimakasih tatkala sepi temaniku, kau dahaga yang harus ku temui. Rindu dalam jarak adalah untukmu, bukan untuk siapa-siapa. Jasamu tak mampu terucap dengan kata-kata. Terimakasih Ayah , walau aku belum mengetahui siapa itu ayah, namun aku percaya sosokmu akan ku gantikan kelak. Kau selalu menjadi pembangga dalam kisah hidup ini. Meski harus menempuh jarak, aku disini mengurung rasa rindu yang dalam untuk temui kebahagiaan dalam sosok ayah. Bukan maksudku acuhkanmu, tapi keadaan yang membuat kau dan aku saling tak merangkul. Namun dengan semua itu tetap kau ayah dari urat nadiku. Ciptaku tanpamu bukan menjadi arah hidupku. Terimakasih Kakek-Nenek , walau aku tak ingat sosokmu, apalagi Nenek, aku tahu betul dari kisah ...

Jemari Ini Suarakan Namamu

Seperti angin pagi yang ucapkan rindu pada embun Dan air yang bisikan hening dalam alir Kini ku lihat akan kemerduan nyanyian dedaunan Yang bermusikan suara burung Dengan irama syahdu hembusan angin Aku terpahat dalam panah asmara Yang kembali untuk sekian kalinya Merasakan cinta yang sangat sulit ku terka Bukan lalu yang ku maksud Namun nama baru dari sebuah kisah pertemuan Ini hadir tanpa ku terka dalam 1000 malam Bahkan aku tak tau ia siapa Namun jemariku tak henti suarakan namamu Yang kadang membuat jemari ini kesulitan berkata Bahkan berhenti bernafas Jemariku kembali suarakan namamu Lebih lantang dalam hati walau mulut terkunci Jemariku suarakan namamu Dengan rindu ku ucapkan salam pada hangatnya cinta Jemariku seakan hilang suara Tatkala kau leburkan cintamu dalam hati ini Jemariku nuansakan namamu dikeheningan malam Dan berdiam dalam mimpi tidur lelapku Jemariku bersuara, kaulah pilihan hati ini Teruntuk...

“Biarkan Aku Melakukannya, Bunda”

Hari ini mungkin menjadi hari terindah dalam hidupku. Tidak peduli akan masa lalu, dan kini akan ku sambut masa depan bersamanya, kekasih yang InsyaAllah menjadi pelabuhan terahir cinta ini. Hari ini sangat aku tunggu juga dia, yang telah 5 tahun menjalin kasih sayang untuk merajut dan membuka lembaran baru, menikah bersamanya. Tedy, itulah nama yang hari ini akan mengucapkan janji denganku untuk membina rumah tangga bersamaku. Jam telah menunjukan pukul 08.00. Jantung ini benar-benar berdegup kencang, tidak biasanya bahkan lebih kencang dibanding Interview melamar pekerjaan. Tubuh ini pun dibalut dengan pakaian adat Sunda yang begitu khas. Warna putih aku pilih untuk menghadapi akad nikah hari ini. “Rini, kamu sangat terlihat cantik sekali”, puji ibunda tercintaku yang sedari tadi ikut meriasi aku. “Ah bunda, setiap hari juga aku kan cantik bun..”, ucapku dengan senyuman. “ya sudah ayo cepat, sebentar lagi rombongan keluarga Tedy datang”, sambil merapikan kerudungku yang membalu...